
Workshop Literasi Finansial di British School Jakarta: Inflasi, Aset, dan Penciptaan Uang
Pada tanggal 27 & 28 November 2025, tim Generasi Merdeka — Nurul Bahirah — menjadi learning designer dalam pelatihan literasi finansial yang diadakan di British School Jakarta untuk anak-anak sekolah usia 14 tahun sampai SMA kelas 3.
Pertanyaannya sederhana tapi berat: "Apakah anak SMP dan SMA bisa diajak berpikir kritis tentang permasalahan moneter dan global?" Jawaban kami — adalah: tentu saja bisa.
Sesi 1: Inflasi — Dari Mana Munculnya?
Kami tidak membuka sesi dengan definisi inflasi. Kami membuka dengan foto burger dari tahun 1968 sampai 2018: dari $0.49 menjadi $6.12. Lalu satu pertanyaan ditempel di dinding:
"Why does the same burger cost 12× more — but it's not 12× bigger?"
Anak-anak menempel post-it berisi prediksi mereka — kapan dolar akan menjadi worthless seperti bolivar Venezuela? Ada yang menulis 2050, 2070, 2100, dan ada juga yang berani menulis "never". Tidak ada yang salah. Yang penting: mereka berpikir dan berlatih menjelaskan argumentasinya.
Sesi 2: Di Mana Menyimpan Kekayaan agar Tidak Tergerus Inflasi?
Setelah memahami bahwa inflasi tidak pernah gagal naik setiap tahunnya, pertanyaan berikutnya muncul natural:
Emas, saham, properti, atau bitcoin?
Anak-anak berdiskusi dalam kelompok, beradu argumen, lalu voting bersama. Hasilnya berbeda di setiap kelas — ada kelas yang memilih stocks sebagai pemenang, ada yang memilih bitcoin, ada yang memilih gold. Yang penting bukan jawabannya, tapi alasannya: "pro gold: safer, less volatile" — "pro bitcoin: more growth, safer from physical attack."
Drama ala Teater, Bukan Ceramah
Pembelajaran ini berbasis drama, diskusi, dan musyawarah — tidak ada waktu untuk bosan mendengarkan ceramah dan melihat PPT panjang. Anak-anak memerankan karakter (civil servant di Yogyakarta yang ingin melunasi mortgage dan menyekolahkan anak), berargumen, dan mengambil keputusan finansial sebagai karakter tersebut.
Yang Kami Pelajari
- Anak SMP–SMA siap berpikir tentang inflasi, devaluasi mata uang, dan asset allocation — jika kita memberi mereka ruang.
- Pertanyaan provokatif jauh lebih bertenaga dibanding definisi yang dihafal.
- Drama dan musyawarah membuat konsep finansial yang abstrak menjadi visceral — terasa dan diingat.
Selanjutnya: Pesantren Darul Ulum
Tunggu kegiatan kami berikutnya di Pesantren Darul Ulum — membawa pendekatan yang sama ke konteks pesantren, dengan tantangan dan kekayaan kultural yang berbeda. Baca cerita kami di Darul Ulum →
Sekolah Anda tertarik mengadakan sesi serupa? Diskusikan kerja sama dengan Generasi Merdeka →
