Rencananya Tatap Muka. Lalu Semuanya Berubah Jadi Online.
    Cerita Lapangan
    Nurul Bahirah 14 Juli 2026 8 menit baca

    Rencananya Tatap Muka. Lalu Semuanya Berubah Jadi Online.

    Awalnya rencananya sederhana: sesi tatap muka di HQ Sekolah.Mu, Sabtu, 11 Juli 2026. Tapi menjelang hari-H, semuanya berubah. Mini Workshop dan Microteaching Ruang Berbagi Ilmu (RuBI) — tempat saya diundang jadi salah satu narasumber — jadi sepenuhnya online.

    Saya tidak akan bohong: perubahan mendadak kayak gini biasanya bikin saya deg-degan. Materi yang tadinya dirancang untuk ruangan fisik, harus dipindah ke Zoom, breakout room, Miro, dan Google Docs — dalam waktu yang tidak banyak. Tapi justru dari situ, sesi yang saya bawakan jadi salah satu yang paling saya ingat.

    Misi yang Belum Dibongkar

    RuBI adalah gerakan relawan pendidikan yang sudah jalan sejak 2015, di bawah Indonesia Mengajar. Sampai 2024, sudah 942 relawan terlibat sebagai trainer, hadir di 88 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tahun ini, mereka memperluas dampaknya ke lima daerah — Solok, Cilegon, Blora, Rote Ndao, dan Wakatobi — dan sebelum berangkat, para relawan narasumber perlu dibekali dulu.

    Generasi Merdeka diundang jadi satu dari empat narasumber di acara ini, bersama Sekolah Murid Merdeka, Guru Belajar Foundation, dan Komunitas Guru Belajar Nusantara. Materi kami: Pembelajaran Kreatif dan Bermakna, dibawakan oleh Nurul Bahirah, Nurani Fitriyah, dan Dian Novalita.

    Tapi saya tidak mau cuma bicara soal deep learning dari slide ke slide. Jadi saya rancang sesi ini supaya peserta benar-benar mengalaminya — bukan cuma mendengar tentang PBL, tapi jadi murid di dalamnya dulu.

    Begitu Zoom dibuka, saya bilang ke mereka: hari ini kalian akan mengerjakan sebuah design challenge. Tapi saya belum jelaskan apa misinya. Tugas kalian sekarang cuma satu — ikuti prosesnya, seolah-olah kalian murid kelas 7 hari ini.

    Saya juga minta mereka menyiapkan catatan kecil di samping laptop — mencatat apa yang mereka lihat, apa yang mereka pikirkan, dan pertanyaan apa yang muncul, sepanjang sesi berjalan. See-Think-Wonder. Bukan esai, cukup kata kunci. Saya tahu, kalau tidak dibatasi dengan jelas, peserta yang perfeksionis bisa kehabisan waktu menulis catatan panjang alih-alih ikut prosesnya.

    Cerita yang Jadi Pintu Masuk

    Lalu saya mulai dengan cerita. Bukan data, bukan definisi — cerita.

    Saya cerita soal hari saya naik kereta ke sekolah, dan melihat seorang ibu kesulitan karena anaknya menangis terus. Sebagai ibu, saya pernah merasakan hal yang sama — lelahnya, cemasnya, bingungnya, saat anak bosan di kereta dan tidak ada ruang buat mereka bergerak. Saya cerita, gara-gara pengalaman itu saya jadi jarang bepergian jauh bersama anak. Dan waktu saya buka Threads, ternyata bukan cuma saya yang merasakannya.

    Dari situ saya lempar satu pertanyaan ke peserta: apa yang bisa kita lakukan untuk mengangkat isu kereta ramah anak ini secara formal ke PT KAI, supaya lebih banyak orang tua dan anak bisa menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman?

    Dan saya bilang ke mereka — ini bukan cuma latihan. Surat yang mereka tulis nanti akan benar-benar dikirim ke KAI lewat akun resmi Generasi Merdeka.

    Menulis, Direvisi, Dikritik

    Dari sana, peserta yang terbagi dalam beberapa breakout room mulai bekerja — persis alur project-based learning yang sesungguhnya. Mereka menggali dulu apa saja yang perlu mereka ketahui untuk menulis surat resmi yang persuasif, riset cepat, lalu mulai menulis draft di Google Docs kelompok masing-masing.

    Bagian yang paling saya suka: sebelum revisi, saya undang seorang expert untuk membaca salah satu draft surat mereka — tapi berperan sebagai penerima di KAI yang skeptis, yang setiap hari menerima puluhan surat keluhan. Expert membacanya dengan nada menyilang tangan, sinis, selama kurang lebih tiga puluh detik. Lalu bertanya ke semua kelompok: dari situ, apa yang sebenarnya bikin surat seperti ini gampang diabaikan, dan apa yang bikin penerima berhenti dan benar-benar membaca?

    Peserta jadi punya alasan konkret untuk merevisi surat mereka — bukan karena disuruh, tapi karena mereka baru saja mendengar sendiri kenapa surat itu bisa gagal.

    Misi yang Akhirnya Dibongkar

    Setelah revisi dan jeda sebentar, saya kembali dan bilang ke mereka: ingat design challenge dan misi rahasia yang saya sebut di awal? Sekarang saatnya saya ungkap.

    Apa yang baru saja mereka alami — dari cerita saya soal kereta, sampai riset, drafting, revisi — itu bukan sekadar latihan menulis surat. Itu satu sesi Project-Based Learning yang lengkap. Dan misi mereka sekarang: mereka bukan lagi murid di sesi ini. Mereka jadi desainer pembelajaran. Tugas mereka, evaluasi sesi yang baru saja mereka alami, lalu rancang ulang supaya lebih menarik, lebih mendalam, dan lebih kontekstual dengan daerah masing-masing — Solok, Cilegon, Blora, Rote Ndao, atau Wakatobi.

    Mereka buka lagi catatan See-Think-Wonder mereka sendiri, mendiskusikan pola yang muncul, lalu mulai merancang ulang — bebas memilih tetap pakai isu kereta atau ganti dengan isu lokal yang lebih relevan buat daerah mereka. Setiap kelompok membagi peran sendiri: siapa riset konteks lokal, siapa mendesain alur aktivitas, siapa menyiapkan visual di Miro.

    Sebelum presentasi, mereka saling intip board kelompok lain, saling kasih satu komentar cepat. Lalu presentasi, voting, dan penilaian dari expert berdasarkan empat kriteria: kedalaman, kontekstualisasi, kreativitas, dan kelayakan implementasi.

    Kenapa Saya Bagikan Ini

    Saya bisa saja menulis ini sebagai "GM jadi narasumber online di RuBI, materinya deep learning" — selesai, singkat, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Tapi yang bikin saya masih memikirkan sesi ini bukan soal formatnya yang berubah jadi online. Yang bikin saya mikir adalah: peserta hari itu mengalami sendiri apa yang selama ini kami ajarkan tentang PBL — belajar dengan mengalami dulu, baru merefleksikan, baru merancang ulang untuk konteks mereka sendiri.

    Dan mereka melakukannya lewat layar, tanpa bertemu langsung, tanpa bisa saling menepuk bahu waktu presentasi selesai. Tapi prosesnya tetap terasa hidup — karena yang penting bukan ruangannya, tapi apakah orang-orang di dalamnya benar-benar diajak berpikir, bukan cuma mendengarkan.

    Relawan-relawan itu sekarang sedang atau akan berangkat ke Solok, Cilegon, Blora, Rote Ndao, dan Wakatobi — membawa bukan cuma materi, tapi pengalaman langsung soal bagaimana rasanya dirancangkan sebuah pembelajaran yang bermakna. Saya harap itu yang mereka bawa lebih dulu, sebelum slide manapun.